RSS

Arsip Kategori: Islam Umum

Relevansi Etika Islam dalam Perencanaan dan Pembangunan Kota

tata ruangIslam dan kota akhir-akhir ini mulai kembali digembor-gemborkan oleh beberapa pemerhati arsitektur Islam sebagai salah satu konsep yang seharusnya menjadi perhatian negara-negara dengan penduduk muslim terbanyak. Saputra (2014) mengatakan dalam situs resminya http://www.andikasaputra.net, bahwa Islam seharusnya bukan saja sebagai agama kepercayaan, akan tetapi harus menjadi sebuah sistem nilai kehidupan yang tercermin dalam setiap diri tindakan penganutnya. Mungkin muncul pertanyaan di benak kita, “memangnya Islam juga mengajarkan cara menata kota?” Pertanyaan yang menggelitik. Mungkin sebagian kita merasa tersentil, atau bahkan terkejut. “Oh iya ya? Padahal Islam adalah agama sempurna yang mengatur semua kehidupan manusia”.

Dalam ilmu perencanaan kota, salah satu mata kuliah yang menarik untuk dikaitkan dengan Islam adalah ‘Etika Perencanaan’. Etika dalam perencanaan adalah sistem nilai yang melandasi setiap aktivitas kita dalam merencanakan kota. Lantas, bagaimana etika Islam dalam perencanaan kota? Adakah relevansinya?

Sempurnanya Islam

Berbicara etika Islam tentu saja berbicara tentang Al-Qur’an dan As-sunnah yang shahih sebagai sumber hukum dan pedoman. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wassalam pernah mengatakan dalam haditsnya:

Aku telah wariskan kepada kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah(AL-Qur’an) dan Sunnah Rasul-Nya”

(HR. Al-Hakim)

Islam adalah agama sempurna dan bukan hanya sekedar agama kepercayaan yang bertengger di KTP, atau buku nikah. Islam juga bukan sekedar ritual ibadah ketika ada kematian, naik rumah, atau hajatan tertentu sebagaimana yang diyakini sebagian muslim. Lebih dari itu semua bahwa Islam mengajarkan tentang sistem nilai kehidupan manusia, mulai dari nilai terbesar yaitu tauhid (baca : mengesakan Allah) hingga nilai-nilai kecil yang kita bahkan tidak pernah terpikirkan sebelumnya, seperti membuang hajat, adab makan, minum, dan lain lain.

Islam sejatinya telah mengajarkan semuanya, namun akal dan pengetahuan kita lah yang terbatas sehingga tidak bisa menangkap maksud syari’at.

Memahami Etika Islam dalam Perencanaan dan Pembangunan Kota

Untuk memahami keterkaitan Islam dalam perencanaan kota tentu harus memiliki kajian ilmiah khusus yang mendalam karena menyandarkan pembahasan pada Islam sebagai agama sempurna yang Allah ajarkan melalui Rasul-Nya shallallahu ‘alayhi wassalam adalah sangat penting . Memang benar di dalam Al-Quran dan Hadits nabi tidak ada yang berbicara khusus terkait dengan ilmu perencanaan kota, karena ilmu perencanaan kota adalah ilmu dunia, dan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wassalam pun pernah berkata dalam haditsnya

…kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian.”

(HR. Muslim)

Ilmu dunia adalah suatu yang nyata adanya dalam kehidupan. Ilmu kedunian merupakan suatu hal yang diperlukan untuk menjalani hidup karena manusia membutuhkan dunia dan hidup didalamnya. Oleh karena itulah ilmu dunia merupakan suatu hal yang tidak bisa diingkari, terlebih lagi karena Islam adalah agama yang nyata dan tidak mengingkari adanya realita. Namun sekali lagi ditekankan bahwa manfaat dari ilmu dunia bukan lah sama sekali tidak ada, namun manfaat yang ada pada ilmu dunia adalah manfaat yang bersifat terbatas. Batasan tersebut adalah membantu manusia untuk melaksanakan keta’atan kepada Allah sehingga menjadikan ilmu tersebut memberikan kemanfaatan dan kebaikan. Begitupun dengan perencanaan kota. Kota adalah tempat dimana masyarakat beribadah dan mencari rezeki Allah. Kerusakan yang terjadi di dalam kota tentu akan mempengaruhi manusia sebagai penghuninya. Bagaiamana Islam melihat permasalahan ini?

Untuk melihat relevansi etika Islam dalam perencanaan dan pembangunan kota, setidaknya ada 2 poin penting bahasan yang dapat dibahas, yakni;

  1. Relevansi etika Islam terhadap stakeholders dalam perencanaan kota
  2. Relevansi etika Islam terhadap substansi perencanaan kota

Relevansi etika Islam terhadap stakeholders dalam perencanaan kota (1)

Salah satu elemen penting dalam perencanaan kota adalah stakeholders. Stakeholders adalah mereka yang tinggal di dalam kota, pihak yang merencanakan, mengontrol, dan mengevaluasi, dan terkait dengan semua proses perencanaan kota. Target dari perencanaan kota pun pada akhirnya ditujukan untuk stakeholders itu sendiri sebagimana yang disebutkan dalam UU nomor 26 tahun 2007.

Islam merupakan agama yang mengajarkan akhlak yang begitu sempurna mulai dari kejujuran, tidak egois, kedisplinan, patuh kepada pemimpin, patuh kepada semua peraturan pemerintah yang tidak bertentangan dengan agama, dan masih banyak lagi. Etika Islam mengajarkan untuk menggantungkan keinginan terbesarnya kepada akhirat sehingga setiap stakeholders dalam kota selalu mengambil celah agar setiap tindakannya mendapatkan pahala dari Allah ta’ala.

Mereka yang berperan sebagai perencana kota akan melakukan perencanaan yang sebaik-baiknya yang dapat mengguntungkan manusia, dan berusaha menghindari sekelumit permasalahan yang diprediksikan akan terjadi. Tidak ada sedikit pun keinginan untuk menindas sebagian stakeholders karena Islam mengajarkan tentang keadilan, pun terhadap keadilan ruang.

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”

(QS. An Nahl: 90)

Tidak ada sedikitpun keinginan untuk mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya dari proyek yang diberikan dengan mengguntungkan beberapa pihak yang bertentangan dengan UU (undang-undang) sebagai sumber hukum yang dijadikan rujukan dalam perencanaan kota, karena Islam mengajarkan kejujuran.

Sesungguhnya Kejujuran itu menunjukkan kepada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan itu menunjukkan ke syurga dan sesungguhnya seseorang selalu berbuat jujur sehingga dicatatlah di sisi Allah sebagai seorang yang jujur. Dan sesungguhnya dusta itu menunjukkan kepada Kejahatan dan sesungguhnya Kejahatan itu menunjukkan kepada neraka dan sesungguhnya seseorang  yang selalu berdusta maka dicatatlah di sisi Allah sebagai seorang yang pendusta.

(Muttafaq alaih)

Mereka yang berperan sebagai pengambil kebijakan dan pelaksanan kebijakan (pemerintah) akan melakukan tugasnya dengan sebaik-baiknya, tidak sedikitpun memanfaatkan jabatan dengan cara-cara yang batil, karena Islam mengajarkan untuk amanah dalam setiap akivitas yang diperbuat, pun kepada pemimpin akan diminta pertanggungjawaban atas apa yang dia pimpin.

Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan ditanya tentang kepemimpinannya.”

(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Mereka yang berperan sebagai masyarakat akan patuh kepada semua peraturan yang di buat oleh pemerintah. Ketika pemerintah melarang demikian maka masyarakat pun patuh selama bukan dalam perintah kemaksiatan.

“Kamu harus tetap mendengar dan taat kepada pemimpin itu, walaupun punggungmu harus dipukul dan hartamu diambil. Tetaplah mendengar dan taat.”

(HR. Muslim dalam Kitab al-Imarah)

Demikianlah, Islam mengajarkan pribadi setiap manusia dalam setiap seluk beluk kehidupan. Apabila etika Islam dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dalam perencanaan kota, maka kota yang terbentuk pun akan menjadi ‘sebaik-baiknya’ kota. Karena pada hakikatnya pun kota dinilai dari bagaimana sikap dan tingkah laku masyarakat yang hidup didalamnya.

Relevansi etika Islam terhadap substansi perencanaan kota (2)

Untuk memahami etika Islam terhadap substansi perencanaan kota tentu harus menggunakan pemahaman yang mendalam, dan juga harus dapat dibuktikan dengan penelitian, karena Islam tidak terlalu membahas detail terkait dengan penataan ruang. Islam tidak pernah mengajarkan tentang teori urban design, atau teori elemen kota, teori garden cities, teori transportasi, dan lain sebagainya, namun Islam mengajarkan tentang ‘role map kehidupan’ atau kaidah-kaidah umum yang dapat kita hubungkan dengan Islam.

Dalam lingkup yang lebih kecil misalnya, Islam mengajarkan wanita muslimah untuk menutup auratnya, sebagaimana firman Allah:

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenali, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

(Qs. Al-Ahzaab: 59)

Ayat diatas dapat dijadikan sebagai landasan dalam mendesain rumah dengan sirkulasi udara yang tetap baik namun tetap aman dari pandangan laki-laki ajnabi (baca : asing) atau bukan mahrom Karena wanita memiliki aurat yang harus di jaga. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wassalam juga pernah bersabda,

“Wanita itu adalah aurat, jika ia keluar rumah, maka syaithan akan menghiasinya.”

(Hadits shahih. Riwayat Tirmidzi (no. 1173)

Inilah hukum yang telah ditetapkan oleh Islam. Sehingga kita yang telah meyakini bahwa Islam merupakan sesempurnanya agama harus menggunakan etika Islam dalam setiap perencanaan kota.

Sebagian pemerhati arsitektur Islam kurang tepat memahami perencanaan kota menggunakan etika Islam. Mereka hanya berfokus pada penampilan fisik saja namun tidak mengetahui bagaiamana hakikat atau makna yang seharusnya dimunculkan. Tidak cukup hanya dengan membangun masjid kemudian dikatakan sebagai perencanaan kota Islam. Namun harus ada nilai-nilai yang dimunculkan, karena Islam bukan hanya sebatas simbol-simbol tertentu dalam kota

Dalam lingkup yang lebih besar, yaitu skala kota, etika Islam belum bisa untuk penulis gali lebih dalam karena kurangnya khasanah keilmuan dalam ilmu Islam dan ilmu perencanaan kota yang luas.

Akan tetapi ini menjadi awal untuk mulai memahami dan selalu mengkaitkan antara perencanaan kota dengan etika Islam yang seharusnya menjadi perhatian perencana yang mengaku sebagai seorang muslim. Ilmu perencanaan kota memang merupakan ilmu yang sangat penting, namun yang jauh lebih penting tentunya adalah ilmu Islam yang telah Allah ajarkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Membangun pondasi tentu lebih penting dari pada membangun dinding, atau atap. Begitulah ilmu Islam berperan sebagai pondasi setiap muslim agar kita mengetahui ke arah mana perencanaan kota seharusnya diarahkan agar mendapatkan ridho dari Allah ta’ala.

~Dikumpulkan untuk memenuhi tugas mata kuliah Etika Perencanaan, 30 Desember 2014~

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 1 Januari 2015 in Islam Umum

 

Untuk Mu Duhai Sahabat, yang sedang gundah gulana

10970_1485077345095412_3205412342237103865_nYa Allah, gantikanlah kepedihan in dengan kesenangan, jadikan kesedihan ini awal kebahagian, dan sirnakan rasa takut ini menjadi rasa tentram. Ya Allah, dinginkan panasnya kalbu dengan salju keyakinan, dan padamkan bara jiwa dengan air keimanan.

Wahai Rabb, anugerahkan pada mata yang tak dapat terpejam ini rasa kantuk dari-Mu yang menetramkan. Tuangkan dalam jiwa yang bergolak ini kedamaian. Dan, ganjarlah dengan kemanangan yang nyata. Wahai Rabb, tunjukkanlah pandangan yang kebingungan ini kepada cahaya-Mu, bimbinglah sesatnya perjalanan ini kearah jalan-Mu yang lurus. Dan tuntunlah orang-orang yang menyimpang dari jalan-Mu merapat ke hidayah-Mu.

Ya Allah, sirnakan keraguan terhadap fajar yang pasti datang dan memancar terang, dan hancurkan perasaan jahat dengan secercah sinar kebenaran. Hempaskan semua tipu daya setan dengan bantuan bala tentara-Mu

Ya Allah, sirnakan dari kami rasa sedih dan duka, dan usirlah kegundahan dari jiwa kami semua. Kami berlindung kepada-Mu dari setiap rasa takut yang mendera. Hanya kepada-Mu kamu bersandar dan bertawakal. Hanya kepada-Mu kami memohon, dan hanya dari-Mu lah semua pertolongan. Cukuplah Engkau sebagai Pelindung kami, karena Engkaulah sebaik-baik Pelindung dan Penolong

Sumber : Mahasiswa Muslim Gadjah Mada (fanspage)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 27 November 2014 in Islam Umum

 

Jangan Sombong dan ‘Ujub Wahai Jiwa… Engkau ini Belumlah “Apa-Apa”

"Photo:

Hei kamu.. iya kamu, yang bernama jiwa manusia…
Kamu merasa sudah lama mengaji, banyak ilmu yang dikuasai, berasa otak cerdas sekali…
berduyun-duyun orang bertanya padamu sana-sini…
Lalu kamu ingin memuji diri?

Hei, fiqh perbandingan madzaahib apa sudah semuanya kau kuasai? Atau kau merasa ilmumu sepantaran Imam Al-Bukhari dan An-Nawawi? Hingga kamu merasa pintar sendiri? Kemudian kau membuat orang merasa bodoh dengan sikapmu yang “sok tinggi”.

Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 24 Oktober 2014 in Islam Umum

 

Ringkasan Kajian Tauhid : Keutamaan Tauhid (BAB II)

indexBISMILLAH

Berikut ini merupakan ringkasan kajian bersama Ustad Ikrimah Hafizahullah dalam kajian rutin Ma’had Al Ilmi Yogyakarta dalam pertemuan ke-2.

Dalam bab ini pensyarah Kitab Tauhid menjelaskan bagaiaman hubungan bab ini dengan bab sebelumnya.

Berkata Syeikh Sholeh Al Fauzan, hubungan bab ini dengan bab sebelumnya adalah agar orang yang telah mengetahui Hakikat tauhid maka dia akan bersemangat mempelajari tauhid

1. Mendapatkan keamanan dan petunjuk dunia dan akhirat

Bentuk keamanan dunia adalah, hidupnya akan tentram, dan tidak ada kesedihan. Sedangkan bentuk keamanan di akhirat dibagi menjadi 2 poin

  • Aman dari azab neraka (Mutlak)
  • Keamanan yang nakis, masuk neraka terlebih dahulu sebelum masuk kedalam surga (aman dari kekelalan neraka)

Sedangkan bentuk petunjuk yang akan diberikan oleh orang yang bertauhid adalah, di dunia akan diberikan ilmu dan kemudahan dalam beramal, sedangkan di akhirat akan mendapat petunjuk untuk menuju ke surga, terutama ketika melewati jembatan shiroth.

2. Sebab mendapatkan Surga

Diakhirat orang yang bertauhid dibedakan menjadi 3 golongan, yakni

  • Golongan yang bersih dari dosa (Bid’ah, syirik, dan maksiat)
  • Golongan yang membawa disa, namun kebaikan lebih kuat (dan langsung masuk surge)
  • Golongan yang banyak membawa dosa, dan mampir dulu kedalam neraka

Intinya, oang bertauhid pasti akan masuk kedalam surga. Dalilnya adalah hadits dari

Hadits dari ‘Ubadah bin Ash Shomit, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ، وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ وَكَلِمَتُهُ ، أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ ، وَرُوحٌ مِنْهُ ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ ، أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ

Barangsiapa bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya; begitu juga bersaksi bahwa ‘Isa adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, serta kalimat-Nya (yaitu Allah menciptakan Isa dengan kalimat ‘kun’, -pen) yang disampaikan pada Maryam dan ruh dari-Nya; juga bersaksi bahwa surga dan neraka benar adanya; maka Allah akan memasukkan-Nya dalam surga apa pun amalnya.” (1)

Dijelaskan oleh imam an nawawi, dalam hadits ini ada 5 persaksian yang mulia, yaitu bersaksi bahwa tidak ada sekutu bagi Allah, Muhammad hamba dan rasulNya, isa adalah hamba dan rasulNya, Isa diciptakan dengan kalimat “Kun” melalui rahim Maryam, dan surga dan neraka adalah benar adanya.

Faedah disebutkan “hamba” pada Nabi Isa dan Muhammad menunjukkan tidak boleh ghuluw (berlebih-lebihan) kepada mereka berdua karena mereka berdua adalah Hamba Allah, dan disebutkannya “Rasul” menujukkan bahwa mereka adalah manusia pilihan Allah yang Allah lebihkan dari manusia lainnya.

3. Sebab selamat dari neraka

Dibagi menjadi 2 rincian

  • Sama sekali bebas dari neraka
  • Selamat dari kekekalan neraka

Dalilnya adalah dalam hadits muttafaqun ‘alaih, dari ‘Itban bin Malik bin ‘Amr bin Al ‘Ajlan Al Anshari, Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam bersabda,

فَإِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ . يَبْتَغِى بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ

Sesungguhnya Allah mengharamkan dari neraka, bagi siapa yang mengucapkan laa ilaha illallah (tiada sesembahan yang benar disembah selain Allah) yang dengannya mengharap wajah Allah” (2)

4. Tauhid sebab mendapatkan ampunan

Dalilnya adalah Rasulullah dalam hadits qudsi pernah berkata:

 قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلاَ أُبَالِي ، يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ ، وَلاَ أُبَالِي ، يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لاَ تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً.

Allah tabaraka wa ta’ala berkata, ‘Wahai anak adam! Sesungguhnya jika engkau berdoa kepada-Ku dan mengharapkan-Ku maka Aku akan mengampuni semua apa yang ada pada dirimu dan Aku tidak perduli (seberapa besar dosamu). Wahai anak Adam! Seandainya dosamu sampai setinggi langit kemudian engkau meminta ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya dan Aku tidak peduli (seberapa besar dosamu). Seandainya engkau datang kepada-Ku dengan sepenuh bumi kesalahan-kesalahan (dosa-dosa), kemudian engkau tidak berbuat syirik terhadapku sedikit pun, maka Aku akan datang sepenuh bumi itu pula dengan pengampunan” (3)

 

_______________________________________________________________

Footnote

(1) HR. Bukhari no. 3435 dan Muslim no. 28 (sumber : yufid.com)

(2) HR. Bukhari no. 425 dan Muslim no. 33 (sumber : yufid.com)

(3) HR At-Tirmidzi no. 3540. Hadits ini di-shahih-kan oleh Syaikh Al-Albâni di Shahih At-Tirmidzi (sumber : yufid.com)

 

Ringkasan Kitab Tauhid : Kedudukan Tauhid

indexBISMILLAH

Berikut ini merupakan ringkasan kajian bersama Ustad Ikrimah Hafizahullah dalam kajian rutin Ma’had Al Ilmi Yogyakarta pertemuan ke-2 pada tahun 2013.

1. Tauhid adalah hikmah dari peniptaan manusia

Hal ini dijelaskan oleh Allah Ta’ala dalam surah Adz-Zariyat ayat 56,

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku (QS Adz-Dzariayt 56)

Menurut Syeikh Sholeh Al Fauzan, ayat ini menjelaskan makna tauhid sebagai ibadah.

Menurut Syeikh Alu Syaikh ayat ini merupakan pembatasan , yaitu dapat dikeetahui dengan huruf ( ما ) yaitu huruf nafi (mengingkaran) dan kemudian disusul dengan huruf ( لأ ) maka menujukkan pembatasan.

2. Merupakan hikmah dari pengutusan Rasul

Hal ini dijelaskan  oleh Allah Ta’ala dalam surah An-Nahl ayat 36

وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِي كُلِّ أُمَّةٖ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُواْ ٱلطَّٰغُوتَۖ فَمِنۡهُم مَّنۡ هَدَى ٱللَّهُ وَمِنۡهُم مَّنۡ حَقَّتۡ عَلَيۡهِ ٱلضَّلَٰلَةُۚ فَسِيرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَٱنظُرُواْ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُكَذِّبِينَ

Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul) (QS An-Nahl 36)

3. Adalah perkara pertama yang Allah ta’ala wajibkan

4. Adalah hak Allah ta’ala dari seorang hamba

Hal ini dijelaskan dalam hadits dari Muadz bin Jabal radhiallahu anhu dia berkata:

كُنْتُ رِدْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى حِمَارٍ يُقَالُ لَهُ عُفَيْرٌ فَقَالَ يَا مُعَاذُ هَلْ تَدْرِي حَقَّ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَحَقَّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا أُبَشِّرُ بِهِ النَّاسَ قَالَ لَا تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوا

“Aku pernah membonceng di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diatas seekor keledai yang diberi nama ‘Uqoir lalu Beliau bertanya: “Wahai Mu’adz, tahukah kamu apa hak Allah atas para hamba-Nya dan apa hak para hamba atas Allah?” Aku jawab: “Allah dan Rosul-Nya yang lebih tahu”. Beliau bersabda: “Sesungguhnya hak Allah atas para hamba-Nya adalah hendankah beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun dan hak para hamba-Nya atas Allah adalah seorang hamba tidak akan disiksa selama dia tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun”. Lalu aku berkata: “Wahai Rasulullah, apakah boleh aku menyampaikan kabar gembira ini kepada manusia?” Beliau menjawab: “Jangan kamu beritahukan mereka sebab nanti mereka akan berpasrah saja”. (1)

______________________________________________________________________________________-

Footnote :

(1) HR. Al-Bukhari no. 2644 dan Muslim no. 44 (Sumber : yufid.com)

 

FIQH PUASA

PUASAHukumnya

Alloh Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al Baqoroh: 183)

Umat Islam telah bersepakat tentang wajibnya puasa Romadhon dan merupakan salah satu rukun Islam yang dapat diketahui dengan pasti merupakan bagian dari agama. Barang siapa yang mengingkari kewajiban puasa Romadhon maka dia kafir, keluar dari Islam.

Keutamaannya

“Orang yang berpuasa di bulan Romadhon karena iman dan mengharap pahala dari Alloh maka dosanya di masa lalu pasti diampuni.” (Muttafaqun ‘alaihi) Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 24 Juni 2014 in Fiqh

 

Program Pembersihan & Penyaluran Harta Riba

10366099_10201461072282299_2691782116550872630_nKaum muslimin yang semoga selalu dimuliakan Allah, sebagai seorang muslim yang taat pasti kita mengetahui bahwasannya riba itu haram.
“Maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu (disebabkan tidak meninggalkan sisa riba).” (QS. Al Baqarah: 279).

Bahkan saking bahayanya harta riba ini, banyak dari kaum muslimin yang berlomba-lomba memberikan nasihat dengan menulis artikel yang kemudian disebar di banyak media seperti internet misalnya. Mereka bersemangat menulis artikel seputar bahaya riba karena begitu paham akan ancaman riba ini bagi kaum muslimin, baik di dunia maupun akhirat. Read the rest of this entry »
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 22 Mei 2014 in Umum